Search Al Quran Here / Cari Al Quran di sini

http://www.quranexplorer.com/quran/

Search This Blog

AlQuran

AlQuran
Tafsir Per Kata

Sunday, October 15, 2017

Doa mohon Menjadi Penyaksi! (Syahiddiin)

Doa Penyaksian.

DOA MOHON ORANG MENJADI SAKSI PADA HARI KIAMAT
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
Rabbana amanna bima anzalta wattaba ‘nar rasula faktubna ma’asy syahidin
"Wahai Robb  kami! Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan kami mengikut RasulMu; oleh itu suratkanlah kami beserta orang-orang yang menjadi saksi (yang mengakui keesaanMu dan kebenaran RasulMu". (Surah A-li-Imraan: 53)


Sunday, September 10, 2017

15 Dosa Besar DiDalam AlQuran?!

15 Dosa Besar di Dalam Al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dosa adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah.

Hanya sekedar mengingatkan, bukan untuk menggurui. Mungkin kita telah mengalami kesulitan yang kita duga adalah ujian dari Allah swt., padahal sesungguhnya ujian itu kuncinya adalah bersabar dan tidak lama. Jangan-jangan, kesulitan tersebut adalah azab dari Allah swt. Lantas, apa sajakah yang termasuk 15 macam dosa besar menurut Al-Quran dan bagaimana cara mengatasinya?


1. Syirik (Menyekutukan Allah SWT)

Syirik menurut bahasa berarti syarikat atau sekutu. Menurut istilah tauhid adalah perbuatan menyekutukan allah swt dengan sesuatu selainnya yang seharusnya hanya di tujukan kepada Allah swt., orang yang melakukannya disebut dengan musyrik.

Syirik memiliki dua macam jenis:
1. Syirik yang paling besar yaitu mengambil tandingan-tandingan atau sembahan-sembahan selain Allah swt didalam ibadah, seperti : menyembah berhala, meminta perlindungan atau pertolongan kepada seseorang didalam urusan-urusan yang diluar kesanggupan manusia atau sejenisnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah saw, 'Dosa apa yang paling besar?’ Beliau saw menjawab, ’Engkau menjadikan tandingan terhadap Allah swt padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu.’….” (Muttafaq Alaihi)

2. Syirik yang paling kecil yaitu riya. Riya ini berasal dari kata “ru’yah” atau melihat sehingga ia memiliki arti melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dengan disertai keinginan mendapatkan perhatian manusia / selain Allah swt, memberitahukannya kepada mereka atau keinginan mendapatkan pujian dari mereka, sebagaimana firman Allah swt :
(يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا (١٤٢
Artinya : “….. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa : 142)

Perbuatan semacam ini pun termasuk kedalam perbuatan syirik yang paling kecil sebagaimana riwayat Imam Ahmad dari Mahmud bin Labid berkata: Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik yang paling kecil: riya.”
Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (An Nisaa: 48)
Dan Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga." (Al Maidah: 72)

2. Berputus Asa dari Mendapatkan Rahmat Allah swt.

Berputus asa dari rahmat Allah SWT merupakan sifat orang-orang sesat dan pesimis terhadap karunia-Nya merupakan sifat orang-orang kafir. Karena mereka tidak mengetahui keluasan rahmat Rabbul 'Aalamiin. Siapa saja yang jatuh dalam perbuatan terlarang ini berarti ia telah memiliki sifat yang sama dengan mereka. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf: 87)

3. Merasa Aman dari Ancaman Allah swt.
Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al A'raaf: 99)

4. Berbuat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
Orang yang paling banyak jasanya dan paling dekat dengan kita adalah kedua orang tua kita, seseorang yang durhaka termasuk dosa besar. Perbuatannya antara lain membentak, menghardik, berkata tidak sopan dan lain-lain. Karena Allah SWT mensifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy 'orang yang sombong lagi celaka'. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka". (Maryam: 32)

5. Membunuh
Hak-hak yang paling utama bagi setiap manusia yang dijamin pula oleh Islam adalah hak hidup, hak pemilikan, hak pemeliharaan kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya". (An Nisaa: 93)

6. Menuduh Wanita Baik-baik Berbuat Zina
Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar". (An Nuur: 23)

7. Memakan Riba
Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila". (Al Baqarah: 275)

8. Lari dari Medan Pertempuran
Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya". (Al Anfaal: 16)

9. Memakan Harta Anak Yatim
Memakan harta anak yatim hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Banyak ayat AL-QUR’AN menjelaskan kepada kaum muslimin untuk membantu mengasuh dan mendidik anak yatim, apabila anak yatim dianiyaya dengan cara memakan hartanya, maka itu termasuk dosa besar. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)". (An Nisaa: 10)

10. Berbuat Zina
Asusila adalah perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan yangsaat ini cenderung banyak terjadi di kalangan masyarakat, terutama remaja. Islam dengan Al Qur’an dan sunah telah memasang bingkai bagi kehidupan manusia agar menjadi kehidupan yang indah an bersih dari kerusakan moral. Tentang hal ini Allah SWT berfirman,
"Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu". (Al Furqaan: 68-69)

11. Meninggalkan Sholat Wajib

 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Al-Ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)
Ibnu Mas'ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.
12. Memutuskan Tali Silaturahim
هَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS. Muhammad :22-23)

13. Sumpah Palsu
"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih." (Ali Imraan: 77 )

14. Meminum Khamar dan Berjudi
"Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Al-Ma'idah: 90)
15. Ghibah

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu, memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang." – (QS. Al-Hujurat: 12)

Cara Menghapus Dosa Besar

Dosa besar dapat menutup pintu rezeki kita. Na'udzubillaahi min dzaalik. Maka dari itu, mari renungkan, jangan-jangan, selama ini kita pernah berbuat dosa besar dan belum meminta ampunan Allah swt.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah akan mengampunkan semua dosa dengan taubat nashuha dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut insya Allah akan diampunkan dan apabila dosa yang berkaitan dengan manusia misalnya kedzaliman maka harus meminta maaf kepada orang di dzolimi.


(وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (٨٢
Artinya : “dan Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha : 82)

Wallahu a'lam bishshowab.
Wallahu waliyyut taufiq.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5 komentar:

Ahmed mengatakan...
dalilnya nggak ada bahasa arab
juli ardi mengatakan...
Emank harus gtu pakai bahasa arab,,?
Anis Khoirunnisa mengatakan...
Poin 6, bagaimana dg wanita yg diperkosa?
willie happy mengatakan...
kalau memang betul yg di katakan mbak anis khoirunnisa wanita tersebut tidak berdosa lantaran di perkosa asalkan memang benar2 menolak di perkosa dan melawan saat di perkosa walau pada akhirnya tiada daya menyerang melawan dan akhirnya di perkosa, insya Alloh tdk berdosa... Alloh Maha Tahu.......
arrian gabonal mengatakan...
Wanita di perkosa adalah korban nafsu.. Dengan catatan Dimana wanita itu tidk menikmati zinah perkosa itu sndri .. Maka wanita itu cukup membersihkan dirinya dari hadas besar dan mohon ampun kpd allah atas apa yg sudah terjadi. Sesungguhnya allah maha pengampun. Semoga allah sllu melindungi . amiin

Posting Komentar

Owner

Foto Saya
Fitri Nurrahmi
Muslim. Simple. Medical student. Might look shy to strangers :)) Bismillah, keep istiqamah!
Lihat profil lengkapku

Labels

2011 (1) 2013 (2) acara (2) AMSA (1) asam-basa (1) blok 11 (2) blok 12 (2) blok 13 (6) blok 14 (1) blok 15 (2) blok 16 (1) blok 18 (1) blok19 (1) cairan tubuh (1) ciliata (1) diary (10) doa (4) dokter (3) ekg (1) farmakologi (2) first (1) fisiologi (1) hello (2) helmintologi (2) ibnu sina (1) just for fun (2) mata (1) mikrobiologi (4) neurosensori (1) new blocks (1) organisasi (1) OSCE (4) OSPE (4) PA (5) parasitologi (7) pengetahuan (1) PK (1) protozoologi (2) renungan (4) rhizopoda (1) sbmptn (2) semangat (5) snmptn (1) test (2) tiroid (1) unsri (2) update (1)

Entri Populer

Followers

Mau Dapet Email Tiap Ada Posting Baru?

 

Monday, September 4, 2017

ZIKIR-YAQAZAH-HUDUR..Jauhi Lalai dari Ingat Kepada Allah: Ustaz Nik Bakri Nik Mat

YA ROBBI, AKU BERLINDUNG KEPADA ENGKAU DARI BISIKAN-BISIKAN SETAN


 Ghaflah: Lalai > Zikir> Yaqazah> Hudur!

ᴴᴰUstaz Nik Bakri Nik Mat l 29082017 l Lalainya Kita Pada ...

https://www.youtube.com/watch?v=MckFf8Zl3xs
6 hari yang lalu - Dimuat naik oleh OnLine Majlis Ilmu
Bertempat di : Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam Klick
Sebelumnya ......

(023:097) wa qur robbi a'udzubika min hamazatisy syayathin(i)
Dan katakanlah, "Ya, Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,
(023:098) wa a'udzubika robbi ay-yahdhurun(a)
dan aku berlindung kepada Engkau, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku."
(QS 23 Al Mu'minun ayat 97-98) 
 https://akubelajarmengerti.blogspot.my/2013/09/s023a097-098-ya-tuhanku-aku-berlindung.html

Tuesday, August 15, 2017

Kami Mohon Pembukaan Matahati Rohani supaya dapat Menyaksi Allah (Bersyahadah) Ya Allah! Amin.



Muslim yang bermakrifat atau muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)
Jika belum dapat bermakrifat yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Rasulullah bersabda yang artinya “jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَآهُ بِقَلْبِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nyadia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya

Thursday, August 3, 2017

Nabi menyebut dalam hadisnya:" Ulama dari kalangan umatku seperti Nabi di kalangan bani Israii" ...! Lalu dia menyebut Imam Ghazal antaranya

Nabi menyebut dalam hadisnya:" Ulama dari kalangan umatku seperti Nabi di kalangan bani Israii" ...! Lalu dia menyebut Imam Ghazal antaranya....i lalu ditanya Nabi Musa kepada Imam Ghazalisiapa kah namamu ....?Dijawab nya dengan Adab.....

  Mimpi bertemu Nabi disebut dalam banyak dalam hadis Sahih dan benar! Ilmu Ghaib banyak orang tak nak beriman? Kenapa? Nabi Musa dan NAbi2 lain ditemui secara Jaga oleh Nabi! Semasa Isra' Mikraj. Jika kamu nak percaya Alhamdulillah..jika x mahu percaya Inna Lillahwa inna ilaihi roji'un )

 https://www
-2:59
22,457 Views

Wednesday, July 26, 2017

Hujjah Imam Hanafi dalam Kitab Alwasiat) Kalahkan Aqidah sesat salafy / wahaby


I. Bukti (Kitab al fiqh al absath)  Aqidah Imam Abu Hanifah “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH”, (Mewaspadai Ajaran Sesat Wahabi)



Terjemah:
Lima: Apa yang beliau (Imam Abu Hanifah) tunjukan –dalam catatannya–: “Dalam Kitab al-Fiqh al-Absath bahwa ia (Imam Abu Hanifah) berkata: Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu”. Dialah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, oleh karenanya maka tempat dan arah itu bukan sesuatu yang qadim (artinya keduanya adalah


NIH BACA YANG DIGARIS MERAH :

( DIATAS ADALAH KENYATAAN IMAM ABU HANIFAH DALAM KITAB WASIAT BELIAU PERIHAL ISTAWA )



( DIATAS ADALAH KENYATAAN IMAM ABU HANIFAH DALAM KITAB WASIAT BELIAU PERIHAL ISTAWA )
AKIDAH IMAM ABU HANIFAH (ulama As-Salaf sebenar)
Oleh: Abu Syafiq ( 012-2850578 )
Imam Abu Hanifah (w150h) merupakan ulama Islam yang dikategorikan sebagai ulama Salaf iaitu yang hidup sebelum 300H. Beliau merupakan ulama Islam yang hebat dan cukup mementingkan ilmu akidah. Inilah keutamaan para ulama Islam memastikan ilmu akidah Islam sebenar tersebar luas moga-moga dengan itu ilmu Islam yang lain lebih tersusun dengan benarnya akidah yang dibawa oleh para pendakwah.
IMAM ABU HANIFAH NAFIKAN SIFAT BERTEMPAT/DUDUK/BERSEMAYAM BAGI ALLAH.
Perkataan ‘semayam atau bersemayam’ lebih membawa erti yang tidak layak bagi Allah iaitu duduk atau bertempat. Sifat duduk dan bertempat merupakan sifat yang dinafikan oleh para ulama kepada Allah kerana ianya bukan sifat Allah.
Maha suci Allah dari sifat duduk atau bertempat.
Istawa apabila disandarkan kepada Allah sebaiknya diterjemahkan dengan mengunakan kaedah “tafsir ayat dengan ayat” kerana itu merupaka kaedah yang disepakati keutamaannya oleh seluruh ulama Islam.
Apabila Istawa datang dengan makna Qoharo iaitu menguasai dan pada waktu yang sama Allah juga menyifatkan diriNya dengan Qoharo maka tidak salah sekiranya Istawa disitu diterjemahkan dengan Menguasai kerana sudah dan pastinya Maha Menguasai itu adalah sifat Allah.
Manakala duduk atau bersemayam yang bererti mengambil tempat untuk duduk maka itu sudah pasti BUKAN sifat Allah.
Penyelesaian bagi pergaduhan bersejarah tentang makna ayat tersebut pengubatnya adalah dengan menolak zahir maknanya dan tidak mentafsirkan dengan sifat duduk atau bertempat kerana tiada dalil sahih dari Al-Quran mahupun Hadith menyatakan Allah itu bersifat duduk mahupun bertempat.
Ulama Islam mengthabitkan sifat Istawa bagi Allah tanpa menetapkan tempat bagi Allah. Begitu juga mereka menetapkan bagi Allah sifat Istawa dalam masa yang sama menafikan erti bersemayam/duduk bagi Allah.
Perkara ini telah dijelaskan secara nasnya (teks) oleh Imam As-Salaf sebenar iaitu Imam Abu Hanifah sendiri telah menafikannya sifat duduk/bersemayam dan menafikan sifat bertempat atas arasy bagi Allah.
IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :
“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.
Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.
Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

Tafsir Allah itu lebih dekat dari urat leher oleh Habib Munzir Al Musawwa

Tafsir Allah itu lebih dekat dari urat leher oleh Habib Munzir Al Musawwa

Pertanyaan
Saya ingin bertanya tentang makna ayat: Jika ditanya tentang aku, katakan “Aku ini dekat”. Atau ayat lain “Kami lebih dekat dengan urat leher”.
1. Apakah benar menurut ulama Salaf maksud Aku/Kami di sini bukan Allah, tetapi Pengabulan Doa dan Malaikat.
2. Apakah boleh kita mensifati Allah itu Dekat dengan ayat tersebut?
Jawaban Habib Munzir
1. Mengenai ayat pertama, bahwa maknanya adalah kedekatan Allah, diriwayatkan ketika para sahabat bertanya pada nabi saw : “dimanakah Robb kita?”, maka turunlah ayat
: “Bila hamba Ku bertanya tentang aku katakanlah aku dekat..dst” (Tafsir Imam Attabari Juz 2 hal 158, Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 1 hal 219),
mengenai ayat Allah lebih dekat dari urat leher bahwa Allah swt itu membatasi setiap celah dalam diri kita, antara leher dan jantung terdapat pembatas, antara hati dan tubuh terdapat pembatas, antara hati dan ruh terdapat pembatas, dan Allah menguasai setiap batasan batasan itu, hingga bisa saja yg dikehendaki hati tidak mampu dilaksanakan akal, atau yg dikehendaki akal tak mampu dilaksanakan tubuh, atau yg diinginkan hati tak mampu dilakukan ruh, karena kekuasan Allah ada diantara batas batas itu, Allah mampu menghalangi atau merubahnya dg takdir Nya swt, saat hati berniat jahat bisa saja Allah memurnikan akal tuk menolaknya, saat akal berniat jahat bisa saja Allah melumpuhkan tubuh tuk melakukannya, demikian pula firman Nya swt : Allah membatasi antara manusia dan hatinya . (Tafsir Imam Attabari Juz 9 ha 217)
Bila kaum salafi menafsirkan kalimat Aku menjadi malaikat dan pengabulan doa?, maka mereka mendapat sumber darimanakah?
2. Allah dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak, Allah tak bisa dikiaskan bagaikan manusia, bila jauh jaraknya maka jauh pula wujudnya, bila dekat maka dekat pula wujudnya, Allah berbeda dengan makhluk yg terikat dengan jarak dan tempat, Allah tak terikat dg jarak dan tempat, Allah menguasai seluruh Hamba Nya swt dan menguasai seluruh Alam semesta tanpa membutuhkan jarak dan tempat.
Zaman dahulu, orang yg jaraknya 500km dari kita akan merasa sangat sulit jumpa dg anda, mungkin ia akan sedih dan menangis bila teringat temannya, namun masa kini saat A rindu dg B, maka B masuk kamar mandi dan saat ia selesai mandi temannya yg jaraknya 500km darinya sudah didepannya, ini bisa terjadi masa kini, karena pesawat udara masa kini hanya butuh 30 menit tuk mencapai jarak 500km.
A menjerit menangis dalam kesusahan, ia butuh dana 10 juta untuk membayar kontrak rumahnya pada B, maka zaman dulu ia harus kalangkabut berhari hari mencari teman yg bisa menolongnya, masa kini ia cukup sms C lewat hp nya, maka C mentransfer uang lewat Layanan Banking di hp nya, 3 detik saja maka A sudah punya uang 10 juta, lalu ditransfer ke rek B lewat hp nya pula, maka Cuma 6 detik uang 10 juta sampai ke C.
Demikian cepatnya uang bisa didapat, demikian cepatnya dapat jumpa, dan sekarang A ingin namanya dikenal di seluruh dunia, maka A cukup ke warnet, ia masukkan namanya di salah satu web manasaja : Namaku si A. cukup dg uang 1000 rupiah atau kurang, dalam sekejap namanya sudah tersebar keseluruh dunia, lalu adakah jarak yg masih membatasi kita dengan penduduk di seluruh dunia?, seakan akan tak ada jarak lagi….
Bagaimana dengan Allah.. maha Raja Alam semesta, Yang Maha menciptakan waktu dan tempat, akankah baginya ada jarak pula yg membatasi Nya?
saudaraku, makna kalimat NAHNU yg dijelaskan oleh Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya secara lafadh memang malaikat, namun Imam Ibn Katsir bukan memaksudkan malaikat sendiri, namun Allah dan malaikat lebih dekat kepada seseorang dari urat leher mereka sendiri.
kalimat NAHNU tidak bisa dimaknakan malaikat secara mutlak tanpa dibarengi Dzat Allah swt, karena NAHNU bermakna KAMI, bila maknanya malaikat, maka malaikatlah yg berfirman, bukan Firman Allah swt.
maka ucapan KAMI adalah ucapan malaikat, tentunya bukan demikian yg dimaksudkan oleh Imam Ibn Katsir, beliau menjelaskan bahwa Allah dengan Qudrat Nya swt menjadikan malaikat itu lebih dekat dari seseorang daripada dirinya sendiri, namun sesekali bukan menafikan Allah swt dari kedekatan pada orang itu.
maka jelaslah maknanya bahwa Qudratullah swt itu lebih dekat kepada manusia itu daripada malaikat kepada manusia itu, karena Allah lah yg mengatur kedekatan itu, maka Qudrat Nya swt lebih dekat kepada manusia itu daripada malaikat.
namun berkata Imam Ibn katsir bahwa Allah swt memakai Dhomir Nahnu adalah dimaksudkan jangan ada pemahaman perpaduan atau persatuan tubuh dengan Dzat Allah dalam ayat tersebut.
namun seseekali bukan menafikan kedekatan Allah swt dari manusia itu, hingga merubah makna KAMI adalah malaikat, hingga yg berkata itu adalah malaikat, tentunya bukan demikian.
lalu bagaimana dengan hadits Qudsiy : “Aku bersama hamba Ku saat Hamba Ku mengingat Ku…. ” (shahih Bukhari). bahkan dalam hadits Qudsi itu dikatakan bila hamba Ku mendekat pada Ku sejengkal aku mendekat pada Nya sehasta, bila hamba Ku mendekat pada Ku satu hasta maka Aku mendekat pada Nya satu depa, bila ia mendekat pada Ku dengan berjalan maka aku mendekat padanya dengan berlari”
bukanlah ini berarti berjarak dekat?, tentunya jarak tidak bisa dikiaskan pada Dzat Nya swt, lalu apakah Allah berlari mendatangi kita?, tentunya hal ini bermakna kiasan besarnya penghargaan Allah kepada Hamba Nya yg berdzikir dan ingin dekat pada Nya swt, demikian pula ayat diatas, bahwa Allah swt dekat tanpa jarak dan sentuhan.
namun sesekali bukan menafikan Allah dari dekat pada hamba Nya dengan merubah makna ayat tentang ucapan Allah menjadi ucapan malaikat.
Sumber Habib Munzir