Search Al Quran Here / Cari Al Quran di sini

http://www.quranexplorer.com/quran/

Search This Blog

AlQuran

AlQuran
Tafsir Per Kata
Showing posts with label cinta; Kisah Suci Cinta Ali dan Fatimah. Show all posts
Showing posts with label cinta; Kisah Suci Cinta Ali dan Fatimah. Show all posts

Tuesday, March 29, 2016

HADIST MUTSALSAL; SEBUAH DALIL ADANYA SUNNAH TAREKAT!

HADIST MUTSALSAL; SEBUAH DALIL ADANYA KOMUNITAS TAREKAT



Banyak para fundamentalis yang menentang adanya sebuah perkumpulan aliran tarekat. hadist mutsalsal dibawah mungkin bisa dijadikan pencerahan akan bagaimana mungkin sebuah sunnah Rasul dianggap sebagai hal tercela bagi mereka.

كَانَ عَـلِىُّ كَـرَّمَ وَجْهَهُ سَأَلَ النَّبِىَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عـَاـَى أَقْرَبِ الطُّرُقِ إلى الله تَعَالى وأسْهَلِهَا عـَاـَى عِبَادِهِ وأفْضَلَهَا عِنْدَ اللهِ:فَقَالَ ياَعَلـيُّ عَـلَيْكَ بِمُدَاوَمَةِ ذِاكْرِاللهِ تَعَالى فِىى الْخَلَوَاتِ فَقَالَ يَا عَـلِىُّ هَكَذَا فَضِيْلَةُ الذِّكْرِوَكُلُّ االنَّاسِ ذاَكِرُوْنَ فَقَالَ النَّبِىَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ ياَعَلـيّ لَاتَقُوْمُ السَّاعَةُ وَعَاَـى وَجْهِ الأَرْضِ مَنْ يَقُوْلُ:اَللهْ اَللهْ فَقَالَ عَـلِىُّ كَيْفَ اَذْكُرُيَارَسُوْلَ اللهِ. فَقَالَ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّى ثَلاَثَ مَرّاتٍ ثُـمَّ قُلْ اَنْتَ ثَلاَثَ مَرّاتٍ وَاَنَا أَسْمَعُ. فَقَالَ النَّبِىَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ لااله الاّ الله ثَلاَثَ مَرّاتٍ مُغَمِّضاً عَيْنَيْهِ رَافِعًا صَوْتَهُ وَعـَلِىٌّ يَسْمَعُ. ثُـمَّ قَالَ عـَلِىٌّ لااله الاّ الله ثَلاَثَ مَرّاتٍ مُغَمِّضاً عَيْنَيْهِ رَافِعًا صَوْتَهُ النَّبِىَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَسْمَعُ. اهـ

Artinya:
“Sahabat Ali Karroma wajhah pernah bertanya kepada Nabi SAW, Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang paling dekat menuju Allah, paling mudah mengabdi kepada-Nya, dan paling utama bagi-Nya?. Rasulullah menjawab: Wahai Ali, lestarikanlah zikir kepada Allah didalam waktu sepi, Ali bertanya, apa keutamaan zikir sehingga orang-orang pada berzikir?. Rasulullah menjawab, tidak akan terjadi kiamat di muka bumi selama masih ada orang yang mengucapkan kalimat “Allah..Allah..”. kemudian Ali bertanya, Bagaimana tata caranya aku berzikir ya Rasulullah?. Rasulullah berkata: Pejamkan kedua matamu dan dengarkan aku 3x dan ucapkanlah 3x sedangkan aku mendengarkan. Kemudian Nabi SAW mengucapkan ‘ laa ilaaha illa Allah ‘ 3x seraya memejamkan kedua matanya dan dengan suara yang keras sedangkan Ali mendengarkan. Lalu Ali mengulanginya ‘ laa ilaa hailla Allah ‘ 3x seraya memejamkan kedua matanya dan dengan suara yang keras sedangkan Rasulullah mendengarkan. Di dalam riwayat Imam Thaabari, Baihaqi, dengan sanad muttasil dan shahih ( Rasullullah bersabda kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karroma Wajhah: “Ya Ali, pejamkanlah kedua matamu, tutuplah bibirmu, dan tekuklah lidah ke arah keningmu, lalu ucapkan اللهُ اللهُ اللهُ).”

Kemudian Sayyidina Ali bin Thalib mengajarkan seperti halnya ia diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada puteranya sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra’ al- Batul binti Maulana Rasul. Kemudian sayyidina Husain mengajarkan kepada sayyidina Zainal Abidin, dan seterusnya kepada sanad-sanad kebawahnya sampai kepada Al Alim Al ‘Alamah Al Bahri al Fahammah, Maulana Syaikh Ahmad Khatib al-Syambas, yang bermukim di Makkah al-Musyarrafah, kampung suq al-Lail, kemudian diajarkan kepada syaikh Al-‘Arif bi al-Allah Abdul Karim Al-Bantani kemudian bermukin di Makkah, kemudian diajarkan kepada Syaikh Al-Adiib An-Nadjib Aswani Al-Bantani, kemudian diajarkan kepada Guru kita Al-‘Arif Al-Washaal Abdul Latif bin Ali Al-Bantani, kemudian diajarkan kepada saya Al Faqir ila Rahmai Rabbihi al-Haq, Muslih bin Abdurahman Qosid al-Haq al-Maraqi (Mragen Jawa Tengah, Indonesia).


copy paste dari  http://ibnzainel-tuvanzy.blogspot.my/2013/04/hadist-mutsalsal-sebuah-dalil-adanya.html

 PERINTAH SUPAYA PELAJARI  LAA ILAHA ILLA ALLAH QS 47:19
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ وَاسْتَغْفِرْ‌ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ 
  ١٩
  Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan, dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman - lelaki dan perempuan; dan (ingatlah), Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat). (19)

 http://tanzil.net/#47:19

 https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfl1/v/t1.0-9/12802837_1139371972741848_4911688640740810280_n.jpg?oh=f69c5b24779fe705ab66b850786506fd&oe=57877D40

 Buku yang sangat penting diperintahkan kita belajar ilmu "laa ilaha illaAllah"...

Monday, March 9, 2015

Kisah cinta antara Saidina Ali Ibn Abi Talib dengan Fatimah Az-Zahra

Kisah cinta antara Saidina Ali Ibn Abi Talib dengan Fatimah Az-Zahra


Ada rahsia terpendam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah Az-Zahra. Kawan karib sejak kecilnya, puteri tersayang dari Nabi S.A.W. yang adalah sepupunya itu, sungguh mempesonakannya.

Kesantunannya, ibadahnya, kecekalan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar kain perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Al-Amin tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah mengherdik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menjawab. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu boleh disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar khabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Nabi S.A.W.. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu kata batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,

namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah.

Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab bin Umair.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab bin Arat, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?

Dari sisi kewangan, Abu Bakar seorang saudagar, insyaallah lebih dari mampu membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harapan di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab.

Ya, Al Faruq,

sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,

”Aku datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu cuba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang kecewa karena tak menemukan beliau S.A.W.. Maka ia hanya berani berjalan di waktu kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar pula telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.

”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim,
atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sedar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali redha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika khabar itu tersiar. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman ibn Affan kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’  kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justeru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencuba kawan?”,
kalimat teman-teman kaum Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencuba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang boleh ku tawarkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Nabi S.A.W..

Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat tidak matang. Usianya telah dua puluhan sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul risiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”

Kata itu meluncur tenang bersama senyum  Nabi S.A.W.. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu risiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.

Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar kamu tidak mengerti, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah kediaman yang ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayarnya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah lelaki gentleman sejati.

Tidak hairan kalau pemuda Arab memiliki pepatah, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.

Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, kerana sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mahu menikah denganku?
dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, kerana pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4).


 Copy paste dari :
http://kai-epy-serizawa.blogspot.com/2012/04/kisah-cinta-antara-saidina-ali-ibn-abi.html