Search Al Quran Here / Cari Al Quran di sini

http://www.quranexplorer.com/quran/

Search This Blog

AlQuran

AlQuran
Tafsir Per Kata

Wednesday, August 3, 2016

77 (Tujuh Puluh Tujuh) Cabang dari Cabang-Cabang IMAN ((الإيمان بضع وسبعون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان))

77 (Tujuh Puluh Tujuh) Cabang dari Cabang-Cabang IMAN

1/29/2014
IMAN memiliki cabang yang sangat banyak, hal ini menunjukkan bahwa kata-kata IMAN jika disebutkan secara mutlak -tanpa dikaitkan dengan kata Islam- mencakup agama secara keseluruhan. Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan cabang-cabang IMAN tersebut baik secara global ataupun secara rinci.

Berkaitan dengan penjelasan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam tentang IMAN secara global, hal ini terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu, beliau berkata; Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
((الإيمان بضع وسبعون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان))
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh cabang, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN

dalam riwayat yang lain :
((الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستّون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان))
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, tingkatan cabang terafdhol -tertinggi- adalah ucapan LA ILAHA ILLALLOH, tingkatan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN [Muttafaqun 'alaih]

Al Imam Abu Bakar Al Baihaqy Rahimahullah telah menyebutkan tujuh puluh tujuh (77) cabang IMAN, secara ringkas cabang-cabang IMAN tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Iman kepada Allah Azza wajalla
  2. Iman kepada para Rasul Alaihissholatu wassalam
  3. Iman kepada kepada para Malaikat
  4. Iman kepada Al Qur'an Al Karim dan seluruh kitab yang diturunkan
  5. Iman kepada taqdir, apakah itu baik atau buruk berasal dari Allah Azza wajalla
  6. Iman kepada hari akhir
  7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian
  8. Iman kepada pengumpulan seluruh manusia di padang mah-syar setelah dibangkitkan dari kuburannya
  9. Iman bahwasanya kampungnya orang-orang beriman adalah surga dan kampungnya orang-orang kafir adalah neraka
  10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah Azza wajalla
  11. Iman terhadap wajibnya takut kepada Allah Azza wajalla
  12. Iman terhadap wajibnya penuh harap kepada Allah Azza wajalla
  13. Iman terhadap wajibnya tawakkal kepada Allah Azza wajalla
  14. Iman kepada wajibnya mencintai Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam
  15. Iman kepada wajibnya mengangungkan, memuliakan dan menghormati Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam dengan tidak melampaui batas
  16. Kecintaan seseorang terhadap agamanya sehingga dia lebih mencintai dilemparkan ke dalam api dari pada kufur
  17. Menuntut ilmu, yaitu mengenal Allah Subhanahu wata'ala, mengenal agama-Nya dan mengenal Nabi-Nya Shollallahu 'alaihi wasallam, dengan berdasarkan dalil
  18. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain
  19. Mengangungkan Al Qur'an Al Karim; dengan mempelajarinya, mengajarkannya, menjaga batasan-batasannya, hukum-hukumnya, ilmu halal dan haramnya, serta memuliakan ahlinya dan dengan menghafalnya.
  20. Bersuci dan menjaga serta memperhatikan wudhu
  21. Menjaga dan memperhatikan sholat lima waktu
  22. Menunaikan zakat
  23. Puasa; wajib dan sunnah
  24. I'tikaf -berdiam di masjid-
  25. Haji
  26. Jihad di jalan Allah Azza wajalla
  27. Ribath -menjaga wilayah perbatasan- di jalan Allah Azza wajalla
  28. Bertahan menghadapi musuh dan tidak lari meninggalkan medan perang
  29. Membayar seperlima dari ghanimah -rampasan perang- kepada imam, atau penggantinya bagi yang memperoleh ghanimah
  30. Memerdekakan budak dengan bentuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wajalla
  31. Membayar kaffarah -tebusan- yang wajib karena kejahatan -pidana-; Kaffarah dalam Al Qur'an dan Assunnah ada empat : 
    1. Kaffarah pembunuhan
    2. Kaffarah dzhi-har
    3. Kaffarah sumpah
    4. Kaffarah berhubungan suami istri pada saat puasa ramadhan
  32. Menunaikan, memenuhi seluruh akad [perjanjian yaitu apa saja yang Allah halalkan, haramkan, dan wajibkan serta seluruh batasan-batasan di dalam Al Qur'an]
  33. Menyebut-nyebut dengan pujian akan ni'mat Allah Azza wajalla, dan apa saja yang wajib disyukuri
  34. Menjaga lisan dari perkataan yang tidak dibutuhkan
  35. Menjaga amanah, dan wajib menunaikannya kepada yang berhak -pemiliknya-
  36. Haramnya membunuh jiwa dan berlaku hukum tindak pidana kejahatan atasnya
  37. Haramnya kemaluan -zina- dan wajibnya menjaga kehormatan
  38. Mengepalkan tangan -tidak menyentuh- harta haram; termasuk didalamnya : haramnya mencuri, merampok, memakan suap -sogok-, dan memakan apa saja yang secara syar'i bukan haknya.
  39. Wajibnya wara' -menahan diri- dalam hal makanan dan minuman, serta menjauhi apa saja yang tidak halal dari makanan dan minuman tersebut
  40. Meninggalkan pakaian dan mode serta perabot yang diharamkan dan makruh
  41. Haramnya permainan-permainan dan hiburan-hiburan yang bertentangan dengan syariat
  42. Sederhana -hemat- dalam nafkah -belanja- dan haramnya memakan harta dengan cara yang batil
  43. Meninggalkan dendam dan dengki serta iri dan hasad
  44. Haramnya -menjatuhkan- kehormatan orang lain, dan wajibnya meninggalkan apa saja yang menjatuhkan kehormatan orang lain
  45. Beramal Ikhlas hanya karena Allah Azza wajalla, dan meninggalkan riya'
  46. Senang dengan kebaikan dan sedih dengan keburukan
  47. Mengobati setiap dosa dengan taubat nashu-hah
  48. Menyembelih Qurban, dan intinya adalah : Al Hadyu, Al Udhiyah dan Aqiqah
  49. Taat kepada Ulil Amri
  50. Berpegang teguh dengan Al Jama'ah
  51. Menetapkan keputusan hukum diantara manusia dengan adil
  52. Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
  53. Saling tolong menolong diatas kebaikan dan taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Silaturahmi
  57. Akhlaq yang baik
  58. Berbuat baik kepada budak
  59. Hak Tuan yang wajib ditunaikan oleh budaknya
  60. Menegakkan hak-hak anak dan keluarga lainnya
  61. Dekat kepada ahli agama, mencintai mereka, menebarkan salam dan berjabat tangan dengannya
  62. Menjawab salam
  63. Menjenguk orang sakit
  64. Menyolati jenazah ahlul qiblat -kaum muslimin-
  65. Mendoakan orang yang bersin -jika mengucapkan "Alhamdulillah"-
  66. Menjauhi orang-orang kafir dan pembuat kerusakan serta tegas terhadap mereka
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi -aib- para pelaku dosa
  70. Sabar terhadap musibah serta dari segala sesuatu yang dicabut dari jiwa berupa kelezatan dan kesenangan
  71. Zuhud dan pendek angan-angan -dalam masalah dunia-
  72. Cemburu dan tidak membiarkan anak atau istrinya bercampur baur dengan lelaki lain
  73. Berpaling dari sikap ektrem -melampaui batas-
  74. Dermawan dan murah hati
  75. Menyayangi yang muda dan menghormati yang tua
  76. Mendamaikan antara dua orang yang bertikai
  77. Seseorang mencintai bagi saudaranya yang muslim apa yang dia cintai bagi dirinya, dan tidak senang ada pada saudaranya sesuatu yang dia tidak senangi bagi dirinya, termasuk dalam hal ini adalah : menyingkirkan gangguan di jalanan, sebagaimana yang di-isyaratkan dalam hadits sebelumnya.
Referensi :
Syu'ab Al Iman karya Al Imam Abu Bakar Al Bayhaqi (Wafat 458H)
Aqidah Al Muslim fie Dhou' Al Kitab was Sunnah karya Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qoh-thony

Wednesday, July 27, 2016

Biografi Singkat Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad (Shohibur Ratib Al-Haddad)

Posted by: Syukron Tanzilah | March 25, 2013

Biografi Singkat Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad (Shohibur Ratib Al-Haddad)

Di masa kecilnya,  al-Habib Abdullah mengerjakan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Karena itulah tidaklah mengherankan jika Allah SWT memberinya kedudukan sebagai ‘Wali Al-Quthub’ sejak usianya masih remaja.

rumah kelahiran al imam abdullah bin alawi alhaddad 
Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di provinsi Hadhramaut-Yaman pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim dan di saat beliau berumur 4 tahun, beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkan kedua mata beliau tidak dapat melihat.

Meskipun kedua mata beliau tidak dapat melihat sejak usia dini, beliau tetap tidak memutuskan gairahnya untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan mengisi masa kecilnya dengan berbagai macam ibadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT, sehingga mulai dari sejak usia dini, hidupnya sangat berkah dan berguna.
Ayah beliau, al-Habib Alawi bin Muhammad al-Haddad berkata: “Sebelum aku menikah, aku berkunjung kerumah al-’Arif Billah al-Habib Ahmad bin Muhammad al-Habsyi di Kota Syi’ib untuk meminta do’a. Lalu al-Habib Ahmad menjawabku: “Awlaaduka Awlaadunaa Fiihim Albarakah”
Artinya: “Putera-puteramu termasuk juga putera-putera kami, pada mereka terdapat berkah.”
Selanjutnya, al-Habib Alawi al-Haddad berkata: “Aku tidak mengerti arti ucapan al-Habib Ahmad itu, sampai setelah lahirnya puteraku, Abdullah dan berbagai tanda-tanda kewalian dan kejeniusannya.”

Semenjak kecil, al-Habib Abdullah al-Haddad telah termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar beribadah. Tentang masa kecilnya, al-Habib Abdullah berkata: “Jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha, maka aku mendatangi sejumlah masjid untuk melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya.”
Kemudian untuk mengetahui betapa besar kemauan beliau untuk beribadah di masa kecilnya, al-Habib Abdullah menuturkannya sebagai berikut: “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita shalihah yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anak kasihanilah dirimu.’ Ia mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah.”
Seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Ketika aku berkunjung kerumah al-Habib Abdullah bin Ahmad Bilfagih, maka ia bercerita kepada kami: ‘Sesungguhnya kami dan al-Habib Abdullah al-Haddad tumbuh bersama, namun Allah SWT memberinya kelebihan lebih dari kami. Yang sedemikian itu, kami lihat hidup al-Habib Abdullah sejak masa kecilnya telah mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu ketika ia membaca Surat Yasiin, maka ia sangat terpengaruh dan menangis sejadi-jadinya, sehingga ia tidak dapat menyelesaikan bacaan surat yang mulia itu, maka dari kejadian itu dapat kami maklumi bahwa al-Habib Abdullah telah diberi kelebihan tersendiri sejak di masa kecilnya.”

Al-Habib Abdullah sering berziarah kubur pada Hari Jum’at sore setelah melakukan shalat Ashar di masjid al-Hujairah. Selain itu, al-Habib Abdullah al-Haddad sering berziarah kubur pada Hari Selasa sore. Setelah usianya semakin lanjut dn dan kekuatannya semaki menurun, maka al-Habib Abdullah tidak berziarah pada Hari Jum’at dan Selasa seperti biasanya, adakalanya beliau berziarah pada Hari Sabtu dan hari-hari lainnya sebelum matahari naik.

Di antara wirid al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad setiap harinya adalah kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAH” sebanyak seribu kali. Tetapi di Bulan Ramadhan dibaca sebanyak dua ribu kali setiap harinya. Beliau menyempurnakannya sebanyak tujuh puluh ribu kali pada waktu enam hari di Bulan Syawal. Selain itu, beliau mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH AL-MALIKUL HAQQUL MUBIIN” sebanyak seratus kali setelah Shalat Dzuhur.
Al-Habib Abdullah berkata: “Kami biasa melakukan shalat al-Awwabin sebanyak dua puluh rakaat.”
Al-Habib Abdullah sering berpuasa sunnah, khususnya pada hari-hari yang dianjurkan, seperti Hari Senin dan Hari Kamis, hari-hari putih (Ayyamul baidh), Hari Asyura, Hari Arafah, enam hari di Bulan Syawal dan lain sebagainya sampai di masa senjanya. Beliau selalu menyembunyikan berbagai macam ibadah dan mujahadahnya, beliau tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain, kecuali untuk memberikan contoh kepada orang lain.
Selain di kenal sebagai ahli ibadah dan mujahadah, al-Habib Abdullah juga dikenal seorang yang istiqomah dalam ibadah dan mujahadahnya seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. al-Habib Ahmad an-Naqli berkata: “al-Habib Abdullah adalah seorang yang sangat istiqamah dalam mengikuti semua jejak kakeknya, Rasulullah SAW.”
Dalam masalah ini, al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata: “Kami telah mengamalkan semua jejak Nabi Muhammad SAW dan kami tidak meninggalkan sedikitpun daripadanya, kecuali hanya memanjangkan rambut sampai di bawah ujung telinga, karena Nabi SAW memanjangkan rambutnya sampai di bawah ujung kedua telinganya.”
Tentang kesabaran al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, sejak masa kecil beliau sudah mengalami berbagai cobaan, diantaranya adalah ketika ia menderita penyakit cacar sampai kedua matanya tidak dapat melihat. Meskipun begitu, ia rajin mencari ilmu dan beribadah di masa kecilnya, hingga melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap paginya hingga Waktu Dzuhur tiba. Disebutkan bahwa ia selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya, sampai di akhir usianya. Dalam masalah ini beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya:
“Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorangpun yang mengetahui penyakitku ini, sampaipun keluargaku sendiri.”
Tentang Tarekat al-Ba’alawi, al-Habib Abdullah mengatakan:
“Tarekat kami adalah mengikuti tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah dan mengikuti jejak para salafunas shalihin di segala bidangnya.”
Al-Habib Abdullah kembali menjelaskan:
“Kami tidak mengikuti tuntunan, kecuali tuntunan Allah SWT, tuntunan Rasul-Nya dan jejak al-Faqih al-Muqaddam. Dan tarekat orang-orang yang menuju kepada Allah SWT dan kami tidak membutuhkan tarekat selain tarekat ini. Para sesepuh kami al-Ba’alawi telah menetapkan sejumlah petunjuk bagi kami, karena itu kami tidak akan mengikuti petunjuk lain yang bertentangan dengan petunjuk mereka.”
Telah kami sebutkan bahwa di masa kecil beliau, al-Habib Abdullah mengerjakan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Karena itulah tidaklah mengherankan jika Allah SWT memberinya kedudukan sebagai ‘WALI AL-QUTHUB’ sejak usianya masih remaja.
Disebutkan bahwa beliau mendapat kedudukan Wali al-Quthub lebih dari ‘Enam Puluh Tahun’. Beliau menerima libas atau pakaian kewalian dari al-’Arif Billah al-Habib Muhammad bin Alawi (Shahib Makkah). Beliau menerima libas tersebut tepat ketika al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, usia al-Habib Abdullah 26 tahun. Kedudukan Wali al-Quthub itu beliau sandang hingga beliau wafat (1132 H). Jadi beliau menjadi Wali al-Quthub lebih dari ’60 Tahun’.
Beliau menuntut ilmu pada ulama’-ulama’ di zamannya, diantaranya guru-guru beliau adalah: Sayyiduna Al-Quthub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, Al-Habib Al-’Allamah Agil bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Al-’Allamah Abdurrahman bin Syeikh Aidid, Al-Habib Al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahsin Al-Hudayli Ba’alawi, dan termasuk guru-guru beliau juga adalah Al-Imam Al-’Allamah guru besar kota Makkah Al-Mukarromah, Al-Habib Muhammad bin Alwi As-Segaf, dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lainnya.
Beliau memiliki banyak murid, diantara murid-murid belia adalah: Al-Habib Hasan bin Abdullah Al-Haddad (putera beliau sendiri), Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, Al-Habib Umar bin Zain bin Smith, Al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith, Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Bar, Al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Muhammad bin Umar bin Thoha Ash-Shafi As-Segaf, dan masih banyak lagi murid-murid beliau.
Di antara karya-karya tulis al-Habib Abdullah adalah: ar-Risalah Adab as-Suluk al-Murid, ar-Risalatul al-Mu’awanah, an-Nafaais al-’Ulwiyah Fi al-Masailis as-Sufiyah, Sabiilul Iddikar, al-Ithaaf as-Saail, at-Tatsbiitul Fuaad, ad-Da’wah at-Taamah, an-Nasaih ad-Diiniyah, dan masih banyak lagi lainnya.
Dan termasuk wirid-wirid yang beliau susun diantaranya yang sangat terkenal adalah ‘Ratib Al-Haddad’ yang beliau susun di malam Lailatul Qadr tahun 1071 H.
Beliau wafat hari Senin Malam Selasa tanggal 7 Dzulqa’dah 1132 H, dan di makamkan di pemakaman Zambal di kota Tarim-Hadhramaut-Yemen.
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang teramat luasnya dan meridhoinya serta memberi kita manfaat dan barokah beliau serta ilmu-ilmu beliau di dunia dan akhirat. Aamiin..
Karomah Al-Imam Al-‘Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
Maqam Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad (Shohibur Ratib) 

Karamah adalah suatu keistimewaan yang diberikan kepada seorang Wali Allah SWT sebagai karunia khusus baginya, sebagaimana mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi atau Rasul sebagai bukti kenabian dan kerasulannya. Kalau seorang Nabi atau Rasul diperintah memperkenalkan diri dan tugasnya kepada umatnya, dan untuk membuktikan kerasulan atau kenabiannya, maka ia dibolehkan memperlihatkan mukjizatnya, seperti ketika Nabi Allah Musa as di perintah melempar tongkatnya di depan Fir’aun, sehingga tongkatnya berubah menjadi seekor ular.

Berbeda dengan seorang wali dan karamahnya. Ia tidak diperintah memperkenalkan diri dan menampakkan karamahnya kepada orang lain, karena ia tidak diperintah untuk menyebarkan risalah agama. Hanya saja, seorang wali dianjurkan mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Kalau di tengah dakwahnya, ia membutuhkan suatu bukti, maka ia boleh minta diberi karamah, misalnya ketika Sunan Bonang dihadang oleh seorang preman, maka beliau menunjuk tangannya ke atas pohon, dengan izin Allah SWT si preman melihat buah pohon yang ada di atasnya berupa emas, sehingga ia tidak putus-putusnya memandang emas yang ada di atas pohon itu, sampai Sunan Bonang dapat meneruskan perjalanannya dengan lancar. Adapun buah pohon yang berubah menjadi emas adalah karamah Allah SWT yang diberikan kepada Sunan Bonang, sehingga beliau dapat selamat dalam perjalanannya.
Adapun karamah yang diberikan kepada al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad cukup banyak, sehingga kalau diungkapkan satu persatunya, maka akan membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga kami hanya mengungkapkan sebagian kecil saja, seperti yang dapat di baca di bawah ini:
Seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah berkata: “Pada suatu kali aku terlilit hutang yang banyak dan aku tidak dapat melunasinya, karena aku tidak mempunyai uang. Ketika aku menyampaikan keluhanku kepada al-Habib Abdullah al-Haddad, maka beliau berkata: ‘Semoga esok pagi semua hutangmu dapat terlunasi.’ Ternyata keesokan paginya, ada seorang lelaki memberiku sepuluh potong pakaian. Setelah aku menerimanya, kemudian akupun menjualnya, maka aku mendapat keuntungan yang lebih besar dari jumlah hutangku, semua itu adalah berkah karamah al-Habib Abdullah al-Haddad.”
Salah satu sahabat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Salah seorang yang sangat cinta kepada al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: ‘Aku pernah dirampok sampai semua hartaku habis. Maka akupun mendatangi al-Habib Abdullah untuk meminta tolong dan minta do’a. Ketika aku akan pamitan, maka ia berkata kepadaku, semoga engkau mendapat ganti yang lebih bagus daripada hartamu yang dirampok. Tetapi bacalah setiap paginya ‘YA RAZZAK’ sebanyak tiga ratus delapan puluh kali dan do’a sebagai berikut sebanyak empat kali:
“Allahumma Aghninii Bichalaalika ‘An Charaamika, Wa Bithaa’atika ‘An Ma’shiyatika Wa Bifadhlika ‘Amman Siwaak.”
Maka dengan izin Allah SWA, lelaki itu kembali dalam keadaan yang lebih baik, karena hidupnya lebih baik dan hutang-hutangnya sudah terlunasi. Ia termasuk seorang yang shaleh, bertakwa dan wara’. Ia banyak mengerjakan amal-amal kebajikan, terutama saedekah. Ia sangat yakin kepada al-Habib Abdullah dan kepada orang-orang shaleh. Ia wafat di Kota Syibam pada tahun empat puluh. Semoga Allah SWT merahmatinya dan menempatkannya di surga-Nya yang sangat luas.”
Selain itu, asy-Syeikh Abdullah Syarahil menceritakan kisah asy-Syeikh Umar Bahmid sebagai berikut: “Ada seorang datang mengadu kepada al-Habib Abdullah tentang sakit perut dan darah yang banyak keluar dari duburnya, dan ketika itu aku ada di sisinya. Maka al-Habib Abdullah berkata kepadaku: “Wahai Bahmid, obatilah orang ini.” Maka aku memegang perutnya, kemudian aku meniupnya. Maka penyakit orang itu sembuh pada waktu itu juga. Kemudian penyakit orang itu berpindah kepadaku, sampai aku mengeluh kepada al-Habib Abdullah. Kemudian beliau memberi makanan kepadaku sambil mengusap perutku dengan tangannya yang mulia, maka dengan izin Allah SWT penyakitku segera sembuh pada waktu itu juga.”
Asy-Syeikh Abdullah Syarahil menuturkan, bahwa al-Habib Ahmad berkata kepadaku: “Aku diberitahu oleh al-Habib Ahmad, bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad berkata kepadanya: “Aku melihat ada seorang yang mengeluh sakit gigi dan ia minta do’a kesembuhan darimu.”
Maka aku berkata kepadanya: “Mengapa orang itu meminta do’a kepadaku, padahal engkau masih ada di dekatnya?”
Lalu al-Habib Abdullah mengatakan kepadaku: “Laksanakan saja perintahku.”
“Lalu akupun segera melaksanakan perintahnya, hingga penyakit orang itu sembuh, tetapi rasa sakitnya berpindah pada diriku. Ketika aku menghadap kepada al-Habib Abdullah, maka beliau memberitahuku: “Pdnyakit orang itu sudah sembuh, tetapi rasa sakitnya pindah kepadamu.”
“Memang aku merasakan sakitnya orang itu, namun segera hilang dengan berkahnya,” katanya.
Selain itu masih ada lagi kisah karamah yang dialami oleh al-Habib Abdullah sebagai berikut:
“Disebutkan bahwa ketika al-Habib Abdullah pergi menunaikan ibadah haji, maka ada seekor unta yang melompat-lompat karena emosi, sehingga tidak seorangpun yang berani mendekati dan menungganginya, karena lompatannya sangat keras. Ketika al-Habib Abdullah diberitahu tentang masalah itu, maka beliau mendatangi unta itu dan meletakkan tangannya di lehernya, maka dengan izin Allah SWT, maka unta itu menundukkan kepala kepadanya.”
Salah seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Aku diberitahu oleh salah seorang murid yang selalu mengikuti al-Habib Abdullah al-Haddad: “Pada suatu hari aku keluar untuk mengunjungi seorang syeikh yang dikenal oleh penduduk Kota Tarim dengan nama asy-Syeikh Maula ar-Rakah, dan aku kesana tanpa
memberitahu kepada al-Habib Abdullah lebih dahulu, sehingga aku kesana dalam keadaan demam yang sangat keras. Aku berkata dalam diriku sendiri: “Mungkin penyakitku ini disebabkan aku tidak memberitahu kepada al-Habib Abdullah terlebih dahulu.”
Ketika aku mendatangi al-Habib Abdullah dan mengeluh kepadanya, maka al-Habib Abdullah mengusap badanku dengan tangannya yang mulia. Dengan izin Allah dan berkah al-Habib Abdullah penyakitku segera sembuh dan tidak meninggalkan bekas apapun pada tubuhku.”
Sumber:
-Mengenal Lebih Dekat al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad
-Menyingkap Rahasia Dzikir & Doa Dalam Ratib al-Haddad

Penghargaan JAzakallahu khair dari blog  
https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/25/biografi-singkat-al-imam-al-allamah-al-habib-abdullah-bin-alawi-al-haddad-shohibur-ratib-al-haddad/

NAK ...DICIUM RASULULLAH...JOM AMALKAN AYAT INI LAQAD JAA AKUM RASUULUMMIN ANFUSIKUM...

DICIUM RASULULLAH...
Dalam dunia tasawuf, dikenal seorang yang bernama Syibli. Lengkapnya: Abu Bakar Dalf bin Jahdar as-Syibli. Orang menyebutnya majnun, alias gila, sinting, nyeleneh. Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam, supaya ia tidak tertidur di waktu malam. Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat.
Jika datang bulan Ramadhan, maka ia makin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Mungkin inilah sebagian dari ke-sinting-an Syibli. Syibli lahir dan besar di Baghdad. Dia bersahabat dengan Junayd al-Baghdadi dan para ulama di masanya. Dia bermazhab Maliki. Wafat pada tahun 334 H atau 946 M, dan dimakamkan di Baghdad.
Syibli memang punya karamah. Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad, diceritakan bahwa Syibli mendatangi majlis Abu Bakar bin Mujahid. Melihat Syibli datang, Abu Bakar bangun dari duduknya, menyambutnya, memeluknya,dan mencium keningnya. Setelah kejadian itu, Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya, ‘Duhai Guruku, engkau melakukan yang demikian kepada Syibli? Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting?’
Abu Bakar bin Mujahid menjawab, ‘Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya. Aku pernah bermimpi melihat Syibli datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening Syibli. Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Duhai Rasulullah, engkau berbuat demikian kepada Syibli?’ Rasululullah menjawab, ‘Ya begitulah. Itu karena orang ini (Syibli) sehabis shalat senantiasa membaca ayat:
۞Laqod jaa akum rasulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ro-uufurrohiim ۞
‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (at-Taubah: 128)’, lalu ia melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali’.
Itulah buah dari ke-sinting-an Syibli.
Subhanallah…subhanallah… subhanallah wabihamdih…..
Comment

Thursday, June 2, 2016

Daripada Abu Hurairah r.a beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: "Sebahagian daripada keelokan seorang mukmin ialah meninggalkan apa yang tidak berfaedah baginya."

Hadis 40 Imam Nawawi - Hadis 12 - Tinggalkanlah Perkara Yang Tidak Bermanfaat




HADIS 12

Daripada Abu Hurairah r.a beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: "Sebahagian daripada keelokan seorang mukmin ialah meninggalkan apa yang tidak berfaedah baginya."    

(Riwayat al-Tirmizi no. 2318, Ibn Majah no. 3976, Ahmad no. 1732 dan al-Baihaqi)
                         
  HADITH 12


On the authority of Abu Hurairah, radiyallahu 'anhu, who said : The Messenger of Allah, sallallahu 'alayhi wasallam, said :

"Part of the perfection of someone's Islam is his leaving alone that which does not concern him."

[Hadith hasan - Recorded by Tirmidhi]

Pelajaran:

1.     Antara sifat-sifat seorang muslim adalah dia sentiasa menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina dan rendah moral.

2.     Mendidik diri dan merawatannya dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat didalamnya.

3.     Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda kelemahan iman.

4.     Dianjurkan untuk memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia ataupun akhirat.

5.     Ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian diantara manusia.           

Saturday, May 28, 2016

BELI DAN BACALAH ALQURAN DENGAN KEFAHAMAN. FAHAM TAK? TAK FAHAM MINTALAH ILMU KEFAHAMAN DARI ALLAH.

Selamat datang ke KEDAI KITAB ONLINE. Kami menawarkan kitab Al-Qur'an dan buku-buku Islam. Semua kitab yang dipamerkan adalah stock tersedia kecuali jika dinyatakan sebaliknya. Jika anda ingin membeli dengan harga borong, kami melayani dengan senang hati. KEDAI KITAB ONLINE beroperasi setiap hari 22 Jam .

THE MOST WANTED

THE MOST WANTED

Showing posts with label QURAN TAFSIR PERKATA KECIL. Show all posts

Sunday, 12 February 2012

AL-QURAN SYAAMIL TAFSIR PERKATA A5 RM. 45

Ukuran: A5 (14,3 x 20,6 cm)
Syaamil al-Quran New Hijaz ukuran kecil (A5) yang praktis dibawa kemana-mana. Dilengkapi dengan: Tafsir quran per kata, Tarjamah, Asbabun Nuzul, Ayat Doa, Ayat Tasbih, kandungan ayat, dan Indeks Tematik.

Keunggulan:
•Praktis dibawa kemana-mana untuk kajian tafsir, dll
•Menampilkan arti (bahasa Indonesia) setiap kata (bahasa Arab) dalam Al Qur`an
•Membaca sekaligus belajar bahasa Al Qur`an
•Memudahkan belajar dan melatih memaknai serta menguasai bahasa Al Qur`an
•Lengkap isinya meliputi Al Qur`an, terjemahan, dan arti tiap kata

Thursday, April 28, 2016

The Secret of Secrets: Menemukan Hakikat Allah (Sirrul Asrar) by Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“The Secret of Secrets: Menemukan Hakikat Allah (Sirrul Asrar)” as Want to Read:
The Secret of Secrets: Menemukan Hakikat Allah (Sirrul Asrar)

The Secret of Secrets: Menemukan Hakikat Allah (Sirrul Asrar)

it was amazing 5.00  ·  Rating Details  ·  5 Ratings  ·  1 Review
Banyak sekali ulama yang telah menulis kitab tasawuf, namun tak banyak yang mempu menjelaskan sedalam dan segamblang Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1078-1166). Buku berjudul asli Sirrul Asrar ini merupakan salah satu karya yang paling berhasil menjelaskan secara detail pengalaman dan tahapan-tahapan spritiual seseorang untuk mencapai Tarekat dan Makrifat hingga mencapai Hakikat Allah. Sebuah rujukan utama ilmu tasawuf yang ditulis sejak 1000 tahun lalu, sebagai bekal untuk menjadi kekasih Allah. (less)
Paperback, Large print, 268 pages
Published July 2015 by Turos Pustaka
ISBN13
9786021583265
Edition Language
Indonesian

Tuesday, April 26, 2016

Sirah/sejarah Nabi Muhammad Sollallahu 'alaihi wassalam.: Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Nabi Muhammad s.a.w.

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
"Muhammad" dilencongkan ke sini. Untuk kegunaan lain, sila lihat Muhammad (nyahkekaburan).
Muhammad bin Abdullāh
محمد بن عبد الله
Mohammad SAV.svg
Nama "Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam" dalam seni khat.
Kelahiran Muhammad bin Abdullah
sekitar 570/571 Masihi
Perkuburan Makam Nabi di Masjid Nabawi, Madinah
Nama lain Al-Amin, As-Saadiq, Rasul Allāh dan Abu al-Qasim
Terkenal kerana Pembawa agama Islam
Agama Islam
Pasangan
  • Khadijah binti Khuwailid (595-619)
  • Saudah binti Zam'ah (619-632)
  • Aisyah binti Abu Bakar Al-Siddiq (619-632)
  • Hafsah binti Umar Al-Khattab (624-632)
  • Zainab binti Khuzaimah (625-627)
  • Zainab binti Jansyin (627-632)
  • Juwairiah binti Al-Harith (628-632)
  • Ramlah binti Abu Sufian (628-632)
  • Hindun binti Abi Umaiyah (629-632)
  • Raihanah binti Zaid (629-631)
  • Safiyah binti Huyay (629-632)
  • Maimunah binti Al-Harith (630-632)
  • Maria al-Qibtiyyah (630-632)
Ibu bapa Ayah: Abdullah bin Abdul Muttalib
Ibu: Āminah bt Wahab
Saudara Ahlul Bait
Muhammad bin Abdullah (Arab/Jawi: محمد بن عبد الله; disebut [mʊħɑmmæd]  (Speaker Icon.svg dengar)) (570 M-8 Jun 632 M)[1] merupakan nabi dan rasul yang terakhir bagi umat Islam.[2] Lebih dikenali sebagai Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (Arab/Jawi: نبي محمد صلى الله عليه وسلم), baginda juga adalah pemimpin yang menyatukan Semenanjung Arab kepada satu tatanegara di bawah pemerintahan Islam.[3] Muhammad dianggap oleh umat Islam sebagai pemulih keimanan monoteistik ajaran nabi-nabi terdahulu yang dibawa oleh Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain.[4][5][6][7]
Dilahirkan di Makkah, Semenanjung Arab,[8][9] baginda adalah anak yatim piatu sejak kecil lagi dimana baginda dijaga oleh datuknya, Abdul Muttalib bin Hasyim dan seterusnya bapa saudara baginda, Abu Talib bin Abdul Muttalib. Baginda juga pernah bekerja sebagai pengembala kambing dan saudagar serta perkahwinan pertamanya adalah ketika berusia 25 tahun dimana baginda telah bernikah dengan Khadijah binti Khuwailid (40 tahun). Ketika Muhammad berumur 40 tahun, baginda telah menerima wahyu yang pertama daripada Tuhan melalui malaikat Jibril ketika sedang berada di Gua Hira. Tiga tahun setelah kejadian itu, baginda mula berdakwah secara terbuka kepada penduduk Makkah dengan mengatakan "Tuhan itu Esa" dan hendaklah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (secara harfiahnya membawa maksud Islam) dan ia adalah satu cara hidup (الدين ad-Din) yang diterima Allah sahaja.
Muhammad menerima beberapa orang pengikut pada awalnya yang terdiri daripada pelbagai golongan. Ajaran yang dibawa oleh baginda mendapat tentangan yang hebat dalam kalangan penduduk Makkah malahan mereka dilayan dengan teruk dan zalim. Oleh itu, Muhammad telah menghantar beberapa orang pengikutnya ke Habsyah pada 614 M sebelum baginda dan pengikutnya lain di Makkah berhijrah ke Madinah (dahulu dikenali sebagai Yathrib) pada tahun 622 M. Peristiwa penghijrahan Muhammad itu menandakan permulaan bagi kalendar Islam atau takwim Hijrah. Di Madinah, Muhammad telah menyatukan semua suku kaum dibawah Piagam Madinah. Setelah bersengketa dengan penduduk Makkah selama 8 tahun, baginda membawa 10,000 pengikutnya ke Makkah serta membukanya. Muhammad dan para pengikutnya telah memusnahkan patung berhala yang terdapat di Makkah.[10] Pada tahun 632 M, beberapa bulan selepas peristiwa Haji Wida atau Haji Perpisahan, Muhammad telah jatuh sakit lalu wafat. Ketika kematiannya, hampir seluruh Semenanjung Arab berada di bawah naungan Islam dan bersatu dengan tatanegara Islam.[11][12]

Isi kandungan

Kelahiran

Sebahagian daripada siri berkaitan Allah-green.svg
Islam
Rukun Iman
Allah • Kitab • Malaikat • Nabi
Hari Akhirat • Qada dan Qadar
Rukun Islam
Syahadah • Solat • Puasa
Zakat • Haji
Kota Suci
Makkah • Madinah
Baitulmuqaddis
Hari Raya
Aidilfitri • Aidiladha
Hukum
Al-Quran • Sunnah • Hadis
Sejarah
Garis Masa Sejarah Islam
Khulafa al-Rasyidin
Khalifah • Khilafah
Tokoh Islam
Nabi Muhammad s.a.w
Ahlul Bait • Sahabat Nabi
Mazhab
Ahli Sunah Waljamaah
Hanafi • Syafie
Maliki • Hanbali
Budaya Dan Masyarakat
Akademik • Haiwan • Seni
Takwim • Kanak-kanak
Demografi • Perayaan
Masjid • Dakwah • Falsafah
Sains • Wanita • Politik
Lihat juga
Kritikan • Islamofobia
Glosari
Portal Islam
Baginda lahir dari Keturunan Quraisy (Bahasa Arab قريش). Nabi Muhammad telah diputerakan di Makkah, pada hari Isnin, 12 Rabiulawal[13] (20 April 571M). Ibu baginda, iaitu Aminah binti Wahab, adalah anak perempuan kepada Wahab bin Abdul Manaf dari keluarga Zahrah. Ayahnya, Abdullah, ialah anak kepada Abdul Muthalib. Keturunannya bersusur galur dari Nabi Ismail, anak kepada Nabi Ibrahim kira-kira dalam keturunan keempat puluh.
Ayahnya telah meninggal sebelum kelahiran baginda. Sementara ibunya meninggal ketika baginda berusia kira-kira enam tahun, menjadikannya seorang anak yatim piatu. Menurut tradisi keluarga atasan Mekah, baginda telah dipelihara oleh seorang ibu angkat(ibu susu:-wanita yang menyusukan baginda) yang bernama Halimahtus Sa'adiah حلمة السعديه di kampung halamannya di pergunungan selama beberapa tahun. Dalam tahun-tahun itu, baginda telah dibawa ke Makkah untuk mengunjungi ibunya. Setelah ibunya meninggal, baginda dijaga oleh datuknya, Abdul Muthalib. Apabila datuknya meninggal, baginda dijaga oleh bapa saudaranya, Abu Talib. Ketika inilah baginda sering kali membantu mengembala kambing-kambing bapa saudaranya di sekitar Mekah dan kerap menemani bapa saudaranya dalam urusan perdagangan ke Syam (Syria).
Sejak kecil, baginda tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah terlibat dengan kehidupan sosial arab jahiliyyah yang merosakkan dan penuh kekufuran

Masa remaja

Dalam masa remajanya, Nabi Muhammad percaya sepenuhnya dengan keesaan Allah. Baginda hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan bongkak. Baginda menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berkongsi penderitaan mereka dengan berusaha menolong mereka. Baginda juga menghindari semua kejahatan yang menjadi amalan biasa di kalangan para belia pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga beliau dikenali sebagai As Saadiq (yang benar) dan Al Amin (yang amanah). Baginda sentiasa dipercayai sebagai orang tengah kepada dua pihak yang bertelingkah di kampung halamannya di Mekah.

Berumahtangga

Sebahagian dari siri mengenai
Nabi Muhammad s.a.w.
Muhammad
 
Ketika berusia kira-kira 25 tahun, ayah saudara baginda menyarankan baginda untuk bekerja dengan kafilah (rombongan perniagaan) yang dimiliki oleh seorang janda yang bernama Khadijah. Baginda diterima bekerja dan bertanggungjawab terhadap pelayaran ke Syam (Syria). Baginda mengelolakan urusniaga itu dengan penuh bijaksana dan pulang dengan keuntungan luar biasa.
Khadijah begitu tertarik dengan kejujuran dan watak peribadinya yang mendorong beliau untuk menawarkan diri untuk mengahwini baginda. Baginda menerima lamarannya dan perkahwinan mereka adalah bahagia. Mereka dikurniakan 6 orang anak (2 lelaki dan 4 perempuan) tetapi kedua-dua anak lelaki mereka, Qasim dan Abdullah meninggal semasa kecil. Manakala anak perempuan baginda ialah Ruqayyah, Zainab, Ummu Kalsum dan Fatimah az-Zahra. Khadijah merupakan satu-satunya isterinya sehinggalah Khadijah meninggal pada usia 64 tahun. Seorang lagi anak baginda adalah hasil perkahwinan baginda dengan Maria al-Qibtiyyah. Putera baginda bersama Maria bernama Ibrahim itu juga meninggal semasa kecil. Menurut rekod Nabi Muhammad S.A.Wmempunyai 13 orang isteri. Isteri-isteri baginda dikenali sebagai "Ummul Mukminin" yang bermaksud "ibu orang-orang beriman".

Bapa dan ibu saudara Nabi Muhammad

  • Al-Harith bin Abdul Muttalib
  • Muqawwam bin Abdul Muttalib
  • Zubair bin Abdul Muttalib
  • Hamzah bin Abdul Muttalib
  • Al-Abbas bin Abdul Muttalib
  • Abu Thalib bin Abdul Muttalib
  • Abu Lahab bin Abdul Muttalib
  • Abdul Kaabah bin Abdul Muttalib
  • Hijl bin Abdul Muttalib
  • Dzirar bin Abdul Muttalib
  • Ghaidaq bin Abdul Muttalib
  • Safiyah binti Abdul Muttalib
  • 'Atikah binti Abdul Muttalib
  • Arwa binti Abdul Muttalib
  • Umaimah binti Abdul Muttalib
  • Barrah binti Abdul Muttalib
  • Ummi Hakim al-Bidha binti Abdul Muttalib

Kerasulan

Gua Hira tempat pertama kali Nabi Muhammad memperoleh wahyu.
Muhammad SAW telah dilahirkan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Ia sungguh menyedihkan hatinya sehingga beliau kerapkali ke Gua Hira, sebuah gua bukit dekat Makkah, yang kemudian dikenali sebgai Jabal al-Nour untuk memikirkan cara untuk mengatasi gejala yang dihadapi masyarakatnya. Di sinilah baginda sering berfikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kedurjanaan yang kian berleluasa.
Pada suatu malam hari Isnin 21 Ramadan (bersamaan 10 Ogos 610),[14] ketika baginda sedang bertafakur di Gua Hira, Malaikat Jibril mendatangi Muhammad. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Baginda diminta membaca. Baginda menjawab, "Saya tidak tahu membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta Muhammad untuk membaca tetapi jawapan baginda tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu baginda berusia 40 tahun setengah. Wahyu itu turun kepada baginda dari semasa ke semasa dalam jangka masa 23 tahun. Siri wahyu ini telah diturunkan menurut panduan yang diberikan Rasulullah dan dikumpulkan dalam buku bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Quran (bacaan). Kebanyakkan ayat-ayatnya mempunyai erti yang jelas. Sebahagiannya diterjemah dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebahagiannya pula diterjemah oleh Rasulullah sendiri melalui percakapannya, tindakan dan persetujuan yang terkenal, dengan nama Sunnah. Al-Quran dan al Sunnah digabungkan bersama untuk menjadi panduan dan cara hidup mereka yang menyerahkan diri kepada Allah.

Marhalah dakwah Rasulullah

Marhalah dakwah baginda boleh dibahagikan mengikut fasa:[15]
  1. Fasa Makkah: hampir 13 tahun
    1. Dakwah rahsia: 3 tahun
    2. Dakwah terbuka di Makkah: hampir 7 tahun
    3. Dakwah kepada semua: 3 tahun
  2. Fasa Madinah: 10 tahun
Perjuangan dakwah Rasulullah juga boleh diringkaskan sebagai berikut:
  • Pertama: Marhalah Tasqif - tahap pembinaan dan pengkaderan untuk melahirkan individu-individu yang menyakini pemikiran (fikrah) dan metod (thariqah) parti politik guna membentuk kerangka gerakan.
  • Kedua: Marhalah Tafa’ul ma’al Ummah - tahap berinteraksi dengan umat agar umat turut sama memikul kewajiban dakwah Islam, sehingga umat akan menjadikan Islam sebagai panduan utama dalam hidupnya serta berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
  • Ketiga: Marhalah Istilamil Hukmi - tahap pengambilalihan kekuasaan, dan penerapan Islam secara utuh serta menyeluruh, lalu mengembangkannya sebagai risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Thalabun Nusrah

Thalabun Nusrah adalah detik bersejarah yang dapat dinukil didalam kitab sirah dan merupakan satu aktiviti penting dalam marhalah kedua perjuangan Rasulullah Lestari atau tidaknya dakwah ditentukan olehnya kerana keberlangsungan dakwah memerlukan dua aspek penting:-
  • Pertama, untuk mendapatkan perlindungan (himayah) sehingga tetap dapat melakukan aktiviti dakwah dalam keadaan aman dan terlindung.
  • Kedua, untuk mencapai tampuk pemerintahan dalam rangka menegakkan Daulah Islamiyah (Negara Islam) dan menerapkan hukum-hukum berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah SWT dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Cabaran-cabaran

Apabila Rasulullah menyeru manusia ke jalan Allah, tidak ramai yang mendengar seruannya. Kebanyakkan pengikut baginda adalah dari anggota keluarganya dan dari golongan masyarakat bawahan, Antara mereka ialah Khadijah, Ali, Zaid dan Bilal. Apabila baginda memperhebat kegiatan dakwahnya dengan mengumumkan secara terbuka agama Islam yang disebarkannya, dengan itu ramai yang mengikutnya. Tetapi pada masa, baginda menghadapi berbagai cabaran dari kalangan bangsawan dan para pemimpin yang merasakan kedudukan mereka terancam. Mereka bangkit bersama untuk mempertahankan agama datuk nenek mereka.
Semangat penganut Islam meningkat apabila sekumpulan kecil masyarakat yang dihormati di Makkah menganut agama Islam. Antara mereka ialah Abu Bakar, Uthman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidillah bin Harith, Amr bin Nufail dan ramai lagi.
Akibat cabaran dari masyarakat jahiliyah di Mekah, sebahagian orang Islam disiksa, dianiaya, disingkir dan dipulaukan. Baginda terpaksa bersabar dan mencari perlindungan untuk pengikutnya. Baginda meminta Negus Raja Habsyah, untuk membenarkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya. Negus mengalu-alukan ketibaan mereka dan tidak membenarkan mereka diserah kepada penguasa di Makkah.

Hijrah

Di Makkah terdapat Kaabah yang telah dibina oleh Nabi Ibrahim a.s. beberapa abad lalu sebagai pusat penyatuan umat untuk beribadat kepada Allah. Sebelumnya ia dijadikan oleh masyarakat jahiliyah sebagai tempat sembahyang selain dari Allah. Mereka datang dari berbagai daerah Arab, mewakili berbagai suku ternama. Ziarah ke Kaabah dijadikan mereka sebagai sebuah pesta tahunan. Orang ramai bertemu dan berhibur dengan kegiatan-kegiatan tradisi mereka dalam kunjungan ini. Baginda mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Antara mereka yang tertarik dengan seruan baginda ialah sekumpulan orang dari Yathrib. Mereka menemui Rasulullah dan beberapa orang Islam dari Mekah di desa bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah dan orang-orang Islam Mekah.
Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Makkah. Mereka menemui Rasulullah di tempat yang mereka bertemu sebelumnya. Kali ini, Abbas bin Abdul Muthalib, pakcik baginda yang belum menganut Islam hadir dalam pertemuan itu. Mereka mengundang baginda dan orang-orang Islam Mekah untuk berhijrah ke Yathrib. Mereka berjanji akan melayani mereka sebagai saudara seagama. Dialog yang memakan masa agak lama diadakan antara mayarakat Islam Yathrib dengan pakcik Rasulullah untuk memastikan mereka sesungguhnya berhasrat mengalu-alukan masyarakat Islam Mekah di bandar mereka. Rasulullah akhirnya bersetuju untuk berhijrah beramai-ramai ke bandar baru itu.
Mengetahui ramai masyarakat Islam merancang meninggalkan Makkah, masyarakat jahiliyah Mekah cuba menghalang mereka. Namun kumpulan pertama telahpun berjaya berhijrah ke Yathrib. Masyarakat jahiliyah Mekah bimbang hijrah ke Yathrib akan memberi peluang kepada orang Islam untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain.
Hampir dua bulan seluruh masyarakat Islam dari Makkah kecuali Rasulullah, Abu Bakar, Ali dan beberapa orang yang daif, telah berhijrah. Masyarakat Mekah kemudian memutuskan untuk membunuh baginda. Mereka merancang namun tidak berjaya. Dengan berbagai taktik dan rancangan yang teratur, Rasulullah akhirnya sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenali sebagai, 'Bandar Rasulullah'.

Madinah

Di Madinah, kerajaan Islam diwujudkan di bawah pimpinan Rasulullah Umat Islam bebas mengerjakan solat di Madinah. Musyrikin Makkah mengetahui akan perkara ini kemudiannya melancarkan beberapa serangan ke atas Madinah tetapi kesemuanya ditangkis dengan mudah oleh umat Islam. Satu perjanjian kemudiannya dibuat dengan memihak kepada pihak Quraish Makkah. Walau bagaimanapun perjanjian itu dicabuli oleh mereka dengan menyerang sekutu umat Islam. Orang Muslim pada ketika ini menjadi semakin kuat telah membuat keputusan untuk menyerang musyrikin Makkah memandangkan perjanjian telah dicabuli.

Pembukaan Kota Makkah

Rencana utama: Pembukaan Kota Mekah
Pada tahun kelapan selepas penghijrahan ke Madinah berlaku, Nabi Muhammad berlepas ke Makkah. Tentera Islam yang seramai 10,000 orang tiba di Makkah dengan penuh bersemangat. Takut akan nyawa mereka terkorban, penduduk Makkah bersetuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa sebarang syarat. Nabi Muhammad kemudian mengarahkan supaya kesemua berhala dan patung-patung di sekeliling Kaabah dimusnahkan.

Meneladani perbuatan Rasulullah

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan Rasulullah dibagi menjadi dua macam. Ada yang termasuk perbuatan-perbuatan jibiliyah, iaitu perbuatan yang dilakukan manusia secara fitri, dan ada pula perbuatan-perbuatan selain jibiliyah. Perbuatan-perbuatan jibiliyah, seperti berdiri, duduk, makan, minum dan lain sebagainya, tidak ada perselisihan bahawa status perbuatan tersebut adalah mubah (harus), baik bagi Rasulullah maupun bagi umatnya. Oleh kerana itu, perbuatan tersebut tidak termasuk dalam kategori mandub (sunat).
Sedangkan perbuatan-perbuatan yang bukan jibiliyah, boleh jadi termasuk dalam hal-hal yang ditetapkan khusus bagi Rasulullah, dimana tidak seorang pun diperkenankan mengikutinya (haram); atau boleh jadi tidak termasuk dalam perbuatan yang diperuntukkan khusus bagi beliau. Apabila perbuatan itu telah ditetapkan khusus bagi Rasulullah, seperti dibolehkannya beliau melanjutkan puasa pada malam hari tanpa berbuka, atau dibolehkannya menikah dengan lebih dari empat wanita, dan lain sebagainya dari kekhususan beliau; maka dalam hal ini kita tidak diperkenankan mengikutinya. Sebab, perbuatan-perbuatan tersebut telah terbukti diperuntukkan khusus bagi beliau berdasarkan Ijmak Sahabat. Oleh kerana itu tidak dibolehkan meneladani beliau dalam perbuatan-perbuatan semacam ini.
Akan halnya dengan perbuatan beliau yang kita kenal sebagai penjelas bagi kita, tidak ada perselisihan bahawa hal itu merupakan dalil. Dalam hal ini penjelasan tersebut boleh berupa perkataan, seperti sabda beliau:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَليِّ
“Solatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku solat”
خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ
"Laksanakan manasik hajimu berdasarkan manasikku (apa yang telah aku kerjakan)"
Hadis ini menunjukkan bahawa perbuatan beliau merupakan penjelas, agar kita mengikutinya. Penjelasan beliau bisa juga berupa qaraain al ahwal, yakni qarinah/indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan, seperti memotong pergelangan pencuri sebagai penjelas firman Allah SWT:
فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
"Maka potonglah tangan keduanya." (Surah Al-Maidah : 38)
Status penjelas yang terdapat dalam perbuatan Rasulullah, baik berupa ucapan maupun indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan, dapat mengikuti hukum apa yang telah dijelaskan, apakah itu wajib, haram, mandub(sunat) atau mubah(harus) sesuai dengan arah penunjukan dalil.
Sedangkan perbuatan-perbuatan beliau yang tidak terdapat di dalamnya indikasi yang menunjukkan bahawa hal itu merupakan penjelas, bukan penolakan dan bukan pula ketetapan. Maka dalam hal ini perlu diperhatikan apakah di dalamnya terdapat maksud untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) atau tidak. Apabila di dalamnya terdapat keinginan untuk bertaqarrub kepada Allah maka perbuatan itu termasuk mandub(sunat), di mana seseorang akan mendapatkan pahala atas perbuatannya itu dan tidak mendapatkan balasan jika meninggalkannya. Misalnya Solat Duha. Sedangkan jika tidak terdapat di dalamnya keinginan untuk bertaqarrub, maka perbuatan tersebut termasuk mubah(harus).

Pesanan terakhir Rasulullah SAW (Isi khutbah terakhir Rasulullah SAW)

Ketika Rasulullah mengerjakan ibadah haji yang terakhir, maka pada 9 Zulhijjah tahun 10 hijarah di Lembah Uranah, Bukit Arafah, baginda menyampaikan khutbah terakhirnya di hadapan kaum Muslimin, di antara isi dari khutbah terakhir Rasulullah itu ialah:

"Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan, Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu, dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.
"Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahawa sesungguhya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.
"Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.
"Wahai manusia sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak diberikan makan dan pakaian, dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
"Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah solat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.
"Ingatlah, bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
"Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Qur'an dan Sunnahku.
"Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu."

Kronologi perkembangan Islam

Perkataan "محمد" di dalam Al-Quran

Dalam Surah Al-Saf ayat ke-6, disebut "احمد" yang bermaksud Yang Terpuji = "محمد"
Terlalu banyak ayat-ayat di dalam Al-Quran berkaitan dengan Nabi Muhammad S.A.W, tetapi Allah menyebut dengan panggilan yang lain seperti " يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ " ( Wahai Nabi ), "بَشِيرً" [ Pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman) ], "شَاهِدً" ( Saksi ), "نَذِيرٌ" [ Pemberi amaran ( kepada orang-orang yang ( ingkar ) ) ], "مُذَكِّرٌ" ( Pemberi ingatan ), "نُورٌ" [ Cahaya ( kebenaran ) ], "خَاتَمَ النَّبِيِّينَ" ( Kesudahan Nabi-Nabi). Nabi Muhammad S.A.W kadang-kadang dipangil dengan sebutan yang diperoleh dari keadaan/masa ketika Baginda ditujukan: maka Baginda di panggil "الْمُدَّثِّرُ","الْمُزَّمِّلُ" ( Yang berselimut ), dll.

 https://ms.wikipedia.org/wiki/Nabi_Muhammad_s.a.w.